Kemcer Disaat Pandemi Ke Surken Gunung Gede Via Gunung Putri

Beda teman jalan beda cerita pula lengkap dengan drama juga, tapi tetap seru juga kok.  Sejak suami meninggal dunia ditambah lagi dengan pandemik Covid 19 sampai saat ini, gw sama sekali belum pernah naik gunung lagi. Dan Jumat lalu  (28/05/2021) adalah pendakian pertama bareng kawan-kawan alumni SMP 55 Jakarta. Biasanya kalau naik gunung bareng anak-anak komunitas KOPER dan BPI, kadang 13 orang dan pernah pula naik dengan peserta lebih dari 50 orang. Gw sih cuma terima beres aja, ada tim yang mengatur simaksi dan transportasi dari Jakarta ke basecamp.

jalur pendakian surken gunung gede
Kapan lagi foto dapat background kaya gini dok. Yusup

Selesai dari event launching parfum In Bed With Ussy Pratama, langsung cabut menuju stasiun Bogor, kami janjian disana. Jumlah tim kali ini 6 orang, gw dan tiga teman lainnya ketemuan di stasiun Bogor dan 2 lainnya naik kendaraan pribadi. Setelah sholat magrib kami berangkat menuju basecamp Gunung Gede via Gunung Putri, dengan menyewa angkot Rp 300ribu. Sampai basecamp sekitaran pukul 10 malam, oh iya sebelum sampai kami mampir ke minimarket dulu beli air, kopi, roti dan cemilan lainnya. Sumpah di basecamp Yaman ramai banget, kaya ga ada pandemi aja malahan gw dengar ada juga loh yang open trip ke surken. Gw sih tetap prokes meski ga bisa menghindari dari keramaian, tapi tetap menggunakan masker dan bawa hands sanitizer lengkap dengan obat-obatan dan vitamin C plus madu.

gunung gede
Di pos 1 formasi masih lengkap 

Pukul 23.30 wib setelah ganti baju plus makan malam, kami memulai pendakian, supaya sampai pos bayangan dapat sunrise di Surken. Seperti biasa sebelum pendakian diawali dengan berdoa dulu supaya selalu dalam lindunganNya. Cuaca saat itu gerimis, tapi pas dipertengahan menuju pos sampah hujan berhenti dan jalan pun jadi sedikit becek. Dari basecamp menuju pos 1 memerlukan waktu tempuh 1 jam, cukup santai pula. Akhirnya kami camp di pos 1 padahal rencana awalnya pingin sampai pas sunrise. Ya sudahlah ya umur memang tidak bisa berdusta, salah satu peserta ada yang tertidur pulas sulit sekali dibangunkan.

Ada juga sih beberapa yang ngecamp di pos 1, suasana juga ramai. Tepat pukul 06.00 wib pagi kami kembali meneruskan pendakian. Luar biasa jalur yang disuguhkan Gunung Gede via Gunung Putri ini, dari pos 1 sampai pos bayangan dikasih tanjakan terus. Landainya pas dah sampai ke Surken. Pada akhirnya kami terpisah di jalur menuju pos 2, parahnya lagi gaesss logistik dibawa peserta yang duluan. Jadi dari sini kami terpisah jadi 2 kelompok. Mungkin kami bertiga terlalu santai dan banyak istirahat juga ngobrolnya. Istirahatnya bisa sampai stengah jam, habis rokok sebatang dulu baru jalan.

Baca juga Gede Pangrango via Cibodas

gunung gede jalur putri
Sebelum turun abadikan momen dulu dan itu wajib.. Dok. Yusup

Jalur dari pos 2 ke pos 3 dan ke pos 4 lumayan jauh juga. Sumpah deh ditengah pendakian, gw janji sama diri sendiri ini kali terakhir gw nanjak dan ga henti-henti nya gw berdoa "Ya Allah kapan ini semua berakhir, ampuni hamba yang so kuat ini Ya Allah". Mungkin karena jadi tim rebahan selama dua tahun ini, juga ga pernah olahraga ditambah lagi umur yang sudah kepala 4. Jadi harus terima konsekuensi nya, paha ini seperti menjerit dan detak jantung terdengar sangat jelas dan cepat. Waktu tempuh dari pos 1 ke pos 5 sekitar 10 jam dan waktu turun lebih  5 jam. Tami dan Yusup langsung mendirikan tenda. Setelah sampai Surken, gw melupakan janji pada diri sendiri hahahahhaa, setelah disuguhi padang savana surya kencana. Setelah tenda selesai, mereka berdua mencari tenda Yudhi tim pertama yang duluan sampai. Oh iya pendakian via Putri ini susah air cuma ada mata air di pos sampah dan surken. 

Sudah dicari sampai mata air pun, Yudhi dan dua orang lainnya ga juga ketemu. Jadi malam ini kami kelaparan, yang tersisa cuma 2 bungkus mi dan juga beras. Meskipun begitu masih ada untungnya juga, untung aja Yusup bawa tenda, kompor dan juga beras plus mi tapi bawa kompor lengkap dengan panci kecil buat masak nasi. Ini jadi pengalaman juga sih setidaknya harus bawa makanan sendiri meski sedikit jangan dikumpulkan pada satu orang saja demi menghindari kejadian seperti ini.

Baca juga https://www.tatisuherman.com/2018/09/gunung-bongkok-purwakarta-jawa-barat.html

Jadi malam itu kami tidak makan, gw sih pas habis sholat ashar dah tidur dan bangun tidur pukul 23.00 wib, dan mereka berdua gw lihat dah tidur. Untungnya masih aja untung ya heheehe ini tandanya kita harus selalu bersyukur apapun yang terjadi. Untungnya gw masih punya madu, lumayan bisa buat nahan lapar sampai besok pagi. Jujur gw ga bisa tidur, bukan karena lapar tapi memang mata ini dah terbiasa bangun tengah malam. Malam itu terang bulan, sayangnya gw lupa abadikan. Alhamdulillah akhirnya shubuh pun tiba dan langit pun masih dihiasi cahaya bulan. Pas jam 6 pagi ada tukang nasi uduk keliling gaesss, sebungkusnya 10ribuan aja udah ada bihun plus telor dadar porsinya pas buat gw ya hehehe, tapi buat Yusup dan Tami kayanya kurang nendang deh mungkin cuma sampai tenggorokan aja hahhahahaa. Gw beli 3 bungkus dan 4 gorengan tahu isi @Rp2500.

Alhamdulillah kenyang juga, setelah sarapan mereka berdua kembali mencari keberadaan tenda Yudhi ke mata air, dan masih tidak ketemu lagi. Ya sudahlah ya, akhirnya kami masak nasi dan mi yang ada. Allah kasian, ada pendaki yang hendak turun memberi sisa logistiknya. Lumayan banyak juga ada mi rebus+goreng lebih dari 15 bungkus, mi gelas, super bubur, skm coklat juga gula pasir sampai sisanya pun gw bawa pulang. Pukul 11.00 wib, waktu nya pulang, sambil jalan sambil foto-foto juga.

Ketika naik paha gw rasa ditarik, eh pas turun busyet dah nih kaki jadi tremor untung dipinjami trakpole Tami. Lumayan jadi ada tumpuan buat nahan, meski jadi miring langkah kaki ini. Perlahan tapi pasti sampai, paha jadi kencang istirahat pun ga bisa lama karna kaki akan jadi kaku lagi. Mending sih pas turun jarang berhenti, cuma istirahat pas jam makan siang aja yang lumayan lama di sekitaran pos 3.

Setelah 5 jam sampai juga di basecamp, itu pun setiap warung tenda gw singgahi karena lihat semangka yang merah merona per spasi dijual 5 ribu rupiah, gorengan juga @Rp2500 dan nutrisari @Rp5000. Kalau di gunung semakin keatas semakin berharga juga. Yusup cedera keram kaki, pas mau sampai di warung menuju pos sampah dia naik ojek sampai ke basecamp Yaman Rp 70.000. Padahal gw nunggu dia warung sambil chattingan sama anak, disini baru dapat sinyal XL.

gunung gede
Makan siang di pos 3 menunya super bubur dari pendaki lain...Alhamdulillah.

Alhamdulillah dari pertengahan Pos Sampah (disini pendaki boleh buang sampah yang nantinya didaur ulang oleh warga setempat) sampai basecamp daypack gw dibawain pendaki muda, mereka lihat gw jalan agak pincang jadi ditemani sampai basecamp. Di basecamp formasi tim kembali lengkap jadi 6 orang, banyak juga pendaki yang baru turun. Oh iya di basecamp Yaman juga menyediakan makan ala prasmanan, masakannya lumayan enak sih juga murah all you can eat Rp 15000.

Pas lelah lapar pula ada masakan enak kaya gini, sederhana tapi mewah buat gw. Setelah isya kami berempat otw pulang ke Jakarta, angkot disini lumayan reseh juga, buka harga dari pangkalan ke stasiun Bogor Rp500ribu dan itu udah nett. Kalau sampai Cipanas 20ribu/orang, tapi harga pun berubah lagi jadi 30ribu/orang dengan alasan harga segitu untuk 8 orang. Sumpah deh gegara drama angkot ini, kami ketinggalan kereta terakhir ke Jakarta. Pada akhirnya naik grab 300ribu di 2 titik pemberhentian. Jujur pendakian kali ini berat diongkos.

  • Angkot dari atas ke Cipanas Rp 20.000/orang
  • Carter angkot dari Cipanas ke Stasiun Bogor Rp 300.000 belum berikut tol dalam kota
  • Grab Stasiun Bogor ke rumah Rp 300.000 belum berikut tol
Sebenarnya dari Cipanas bisa naik bis jurusan Kampung Rambutan, mengingat kaki Yusup yang cedera jadi gak memungkinkan. Jadi pengalaman juga sih ya apalagi pendakian disaat pandemi seperti ini, jujur angkot di Jawa Barat itu pada neken penumpang dari luar kota. Sampai ada anak-anak yang numpang mobil bak ga disuruh turun dari mobil, parah banget kan tuh calo. Padahal banyak yang backpackeran, iya sih mereka cari rezeki tapi kan ga gitu  juga kali. 

Komentar

  1. Seru bangeeet mak jalan jalannya 😍😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih seru kalo ada lu juga Ki ea..ea..

      Hapus
  2. Masya Allah mbak Tati masih semangat naik gunung. Aku sejak pandemi jadi suka nonton video yang menayangkan pendakian. Jadi kangen pengen treking ke gunung lagi. Tapi aku tahu diri sih, ingat usia dan pensiun mendaki sejak kerja, hahahaha.

    Semoga sehat sehat, bisa terus melakukan pendakian bersama teman-temannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. kadang ngerasa kangen juga sih ya mba jadinya lupa umur hehehhehe

      Hapus
  3. Hmmmm...Terharu saya baca nya, 3X naik gunung Gede selalu bikin kaki cedera
    Naik ke Sindoro, Cikuray,Papandayan Alhamdulillah aman dari berangkat sampai pulang...apakah saya akan mencoba untuk yg ke 4X ke gunung gede...To be continued

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mesti dicoba dah kali aja udah nguasaim trek

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir dan pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar setelah selesai membaca.

Postingan populer dari blog ini

Tiroid Bukan Penyakit Menular Namun Bisa Mengakibatkan Kematiaan

Manfaat Nano Water Can Slim Untuk Kesehatan

Kacamata Terapi K-Ion Nano Premium 7 Menjaga Kesehatan Mata Dan Tetap Tampil Modis