Jadikan Ramadhan Sebagai Motivasi Perbaikan Diri

Seharusnya tulisan ini diposting tiga tahun lalu, untuk memberikan penghargaan untuk suami tercinta. Yang pada akhirnya sudah pergi sebelum tulisan ini diposting. Penghargaan buat dia yang selalu mencoba memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Mencoba menjadi suami dan bapak yang penuh kasih sayang, yang tujuan hidupnya hanya ingin membuat anak istrinya juga orang di sekelilingnya bahagia.

Hanya tinggal menghitung hari, bulan suci Ramadhan akan datang. Bulan yang penuh keberkahan ini merupakan tahun kedua, kami menjalani tanpa kehadirannya. Semakin bertambah umur, pikiran semakin dewasa sifatnya penuh kejujuran dan bertanggung jawab. Salut memang sama dia, yang tidak menyia-nyiakan ketika hidayah mengetuk hatinya.

ramadhan
Foto ini diambil saat kami menunggu waktu berbuka puasa tahun 2017 di masjid Jami Blok M Square

Perubahan-perubahan selalu terlihat setelah Ramadhan tiba. Saya melihat dari cara makannya, awal-awal menjalani ibadah puasa bersama dia masih belum bisa puasa full. Saya sih maklum, pekerjaannya sebagai seorang mekanik memang tergolong berat. Mengharuskan mengeluarkan tenaga serta putar otak, kalau mesin gengset nya bermasalah.

Meski berat tapi dia mencintai pekerjaannya dan bertanggung jawab penuh. Kepercayaan yang diberikan bos, dia jaga baik-baik. Kalau mengeluh soal gaji mungkin jauh dari peluh dan pengorbanan yang dia lakukan. Walau sakit atau kurang sehat, pasti dia tetap bekerja, saya pun suka kesal. Dia terlalu mementingkan pekerjaannya daripada kesehatan tubuhnya. Alasannya kalau diam dirumah badan pada sakit dan tambah parah. Sehari sebelum dibawa ke rumah sakit Tarakan, dia marah besar karena gak dibangunin buat kerja.

Saya paling malas, membangunkan dia untuk bekerja biar dia bangun sendiri. Kadang suka kesiangan, saya berharap dia dari dulu berhenti bekerja dan menjalani bisnisnya sendiri. Keahlian dan masa bekerja juga resiko dengan gaji yang didapat tidak sesuai. Apalagi kalau dengar dia cerita, bosnya ngeluh sepi orderan, tapi kalau lagi rame orderan diam aja. Aduh gimana gitu rasanya, kalau udah dengar keluh kesahnya kaya gini saya cuma bisa menyemangatinya "sabar aja pak namanya juga bos kan dia yang punya modal, makanya lu berenti kerja aja kalau gak sabarin aja anggap itu pangkalan lu" lucunya kalau saya dah ngomong gini dia langsung ngomong "iya ya anggap aja ini pangkalan qw". Selain bekerja dia juga bekerja sampingan menerima servis dan juga pengadaan sperfart.

Semoga bisa melakukan ibadah Haji dan Umroh bareng keluarga 

Bukannya kurang bersyukur, tapi memang kalau cuma mengandalkan gaji saja hanya cukup buat makan sehari-hari. Karena keuletannya dan kegigihannya dia mencukupi semua kebutuhan kami, alhamdulillah kami pun memiliki dua rumah dan sebidang tanah.

Soal selera makan suami termasuk orang cerewet, bila masakan itu tidak sesuai dengan lidah nya, dia tidak mau memakannya. Dia memang orang paling jujur, tidak suka berbasa-basi. Bila tidak suka dia pasti langsung mengatakannya. Kenyataannya kejujurannya itu yang kadang menyakitkan telinga ini.

Saya merasa sangat bahagia ketika ramadhan terakhirnya, dia lebih dekat dengan Allah. Alhamdulillah sholatnya pun ke masjid terus, puasa juga full terus dan rajin taraweh. Alhamdulillah saya menyaksikan dan menemani saat terakhirnya. Allah panggil dia disaat waktu terbaiknya, semoga taubatnya diterima. Semoga kami pun yang ditinggalkan dapat menunaikan ibadah puasa tahun ini lebih baik lagi dan semoga dimudahkan mendapatkan rizqi Mu yang halal dan tyoibah. Selalu dibimbing di jalan Mu Ya Allah.. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tiroid Bukan Penyakit Menular Namun Bisa Mengakibatkan Kematiaan

Bella Terra Lifestyle Mall Di Jakarta Utara

Manfaat Nano Water Can Slim Untuk Kesehatan