Dilema Seorang Janda

Sudah setahun qw menyandang status janda, hm.. Mungkin ini adalah hal yang paling menyedihkan. Suami  qw meninggal karena penyakit hipertensi yang dideritanya. Kalau dibilang menyedihkan mungkin itu sedikit dramatis dan kejam buat Dia (almarhum). Sesungguhnya meski dia telah tiada, tapi meninggalkan uang dan properti yang bisa qw jadikan modal.

So.. Bukan itu yang menyedihkan buat qw, tapi ketika harus menjawab sebuah "kapan nikah lagi??? Kan lu masih muda???. Sumpah..rasanya pingin qw masukin petasan mulutnya itu. Bagi qw menjalani sebuah hubungan itu butuh kesungguhan, bukan lagi hanya untuk melengkapi kisah cinta di dunia ini. Apalagi almarhum suami qw, adalah pasangan yang pengertian, penuh kasih sayang dan sering banget manjain qw. Meski penyampaian cintanya, sedikit berbeda dan itu yang bikin menarik dan bikin qw jatuh cinta padanya.


dilema seorang janda
Semoga qw bisa jadi ibu sekaligus ayah buat mereka 

Dia (alm) pernah bertanya sama qw "kalau qw meninggal duluan, apa yang akan lu lakukan??? Apa mungkin ibu akan nikah lagi???. Dengan tegas qw jawab pertanyaannya Kalau lu meninggal duluan dan qw jadi janda, yang pertama qw lakukan adalah mendampingi anak-anak kita menjadi sukses, menemukan suami sholeh untuk mereka dan qw akan melakukan solo traveling, qw ga akan menyia-nyiakan waktu untuk menjalin hubungan atau punya suami lagi. Kalau pun Allah menghadirkan seorang pendamping buat qw untuk menggantikan posisi  lu dihati ini.  Qw akan berusaha dan memohon KepadaNya, agar merubah keputusanNya.

Jadi bagi qw, lebih baik menyandang status "Janda Happy" sampai maut ini menghampiri. Selain pertanyaan "kapan nikah" ada lagi yang bikin qw sedih dan kejam buat qw. Rumah keluarga yang dibeli almarhum dan kini sudah direnovasi hampir 20% persen lagi selesai. Dan setelah rampung, akan qw kontrakan dimana hasil uangnya untuk biaya kuliah sibungsu. Tapi sayangnya, ipar-ipar qw ga setuju. Dengan alasan "ga ada tempat untuk  berkumpul dan bersilahtuhrahmi lagi". Padahal dibelakang rumah keluarga ada rumah adik almarhum yang juga bagian keluarga mereka.

commuter line
Moment berharga dua tahun lalu (2017)

Lima kilo meter dari rumah keluarga ada rumah adik almarhum juga, yang mereka sangat hormati. Malah yang saya perhatikan, sejak Umi meninggal, rumah adik disana yang menjadi tempat singgah utama keluarga besar dari almarhum suami. Konflik keluarga antara saudara ipar, memang salah satu hal yang tidak dapat dihindari meski begitu mereka hidup rukun selalu kompak. Meskipun terhadap saudari ipar perempuan, masih dianggap orang lain.

So pliss.. Ngertiin posisi dan keadaan qw, meski qw ipar kalian bahkan orang lain bagi kalian. Tanggung jawab qw sebagai single parents sangat berat. Apalagi qw gak punya penghasilan tetap, untuk sehari-hari aja qw mengharapkan dari hasil ngblog. Uang saku anak-anak dan beban bulanan itu dibiayain dari kamar kossan. Malah qw pernah dengar selentingan omongan dari salah satu ipar qw "keenakan qw nantinya dapat uang kontrakan" hello.. Qw punya dua orang putri yang masih butuh biaya gede, yang harus kuliah dan belum lagi biaya untuk menikahkan mereka." (gak mungkin kan, qw berharap belas kasihan dari orang). 


bogor
Kita kan selalu bersama

Lagi pula untuk sebuah rumah pun masih butuh biaya, beban listrik, PBB dan biaya pemeliharaan mengingat rumah tersebut tidak ditempati. Renovasi rumah, qw pakai uang kuliah anak-anak. Dari uang peninggalan almarhum, qw pingin bisa membiayai sampai mereka menikah nanti dan ada properti sebagai tanda mata dari orangtuanya. Qw sebagai orangtua tunggal mereka, gak mungkin egois atau memperkaya diri sendiri. So pliss.. Kalau kalian masih meributkan nanti pulang kampung kemana atau masih punya pemikiran negatif tentang qw. Jangan khawatir, qw akan amanah dan bertanggung jawab juga qw ga akan menyusahkan kalian.

Sejak ada almarhum pun qw sudah terbiasa mandiri. Apalagi sekarang dia udah ga ada, qw akan berusaha lebih keras lagi, agar bisa dengan bangga jika bertemu dengannya nanti.

Komentar

  1. Semangat ibu tati . Kita semua mendukungmu

    BalasHapus
  2. semoga diberikan kemudahan dan kelancaran.. aamiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin terimakasih mas, doa yang sama untuk kita semua

      Hapus
  3. Gaspol mbk Tati, wujudkan rencanamu demi masa depan anak2. Soal gimana2 pendapat ipar2, abaikan sajalah, cuekiiiiinnnnnnnn mbk cuekiiiinnn.
    Happy selalu mbk Tati, single parents yg tangguh, semoga makin dimurahkan rejeki sm Allah Swt. Aamiin

    BalasHapus
  4. Memang yg berat itu masalah dari keluarga itu sendiri....mana yg menurut mbak baik , lakukan...karena mbak ada tanggungan yg harus dipenuhi kebutuhannya.. oh iya coba baca di paragraf awal, ada kalimat yg kurang ..mestinya "meninggalkan"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang harus sabar mba, terimakasih mbak

      Hapus
  5. Mba Tati. mba tahu yang terbaik. Demi anak anak, tetap berjuang yaa. oodluck dan semoga Allah merahmatti niat baiknya. Aamiin

    BalasHapus
  6. You are strong woman. Lakukan YG terbaik utk buah hatimu

    BalasHapus
  7. Mpok, be strong ya. Kamu kuat, kamu pasti kuat melalui semua ini. Dibicarakan baik-baik dengan keluarga almarhum, toh, duit kontrakan juga buat kebutuhan anak almarhum yang merupakan keponakan mereka. Anak perempuan lagi, yang secara syariat Islam dan adat/budaya (Jawa sih, entah kalau Betawi), merupakan tanggungan ayah dan keluarga ayah (saudara laki-laki ayah, yang juga wali anak-anak gadis tersebut) apabila ayahnya sudah meninggal.

    Kalau mereka ngotot, tinggal bilang aja, "Ya udah, nggak gue kontrakin. Tapi buat biaya anak-anak bantu ya." Lihat coba responnya gimana. Semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas udah diomongin. Udah minta maaf orangnya

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah mampir dan pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar setelah selesai membaca.

Postingan populer dari blog ini

Tiroid Bukan Penyakit Menular Namun Bisa Mengakibatkan Kematiaan

Bella Terra Lifestyle Mall Di Jakarta Utara

Manfaat Nano Water Can Slim Untuk Kesehatan