Rindu Ini Membunuhku

Mataku nanar menatap langit biru awan yang terus bergerak, seakan mengikuti arah pandangan ku. Melihat awan dengan berbagai bentuk, sehingga membuatku berimajinasi. Tanpa sadar, teringat akan kisah kita yang kandas tanpa alasan tak pasti. Entah apa sebabnya, membuat mu pergi tanpa pesan. Hari berganti hingga tak terasa lima tahun perpisahan ini terjadi.

Uffs.. kenapa jadi terkenang dia, padahal aku sudah menepis bayangnya jauh-jauh sejak ia mengingkari janjinya. Semangat Aby.. Aku menyemangati diriku sendiri. Tak terasa perjalanan di udara kurang lebih dua jam ini hanya terbayang kenangan kita saat masih menikmati hari-hari indah bersama.

Pilot pun sudah menberitahukan siap mendarat di bandara Ngurah Rai Denpasar Bali beberapa saat lagi. Alhamdulillah, kami sampai dengan selamat. Cuaca di Bali dan Jakarta berbeda jauh, meski Jakarta panas tapi tak terlalu menyengat seperti di Bali. Sambil menuju pintu keluar, tiba-tiba mata ini menangkap punggung seseorang yang sangat akrab. Tuhan.. apa ini yang dinamakan takdir??? beberapa menit lalu saat dibelahan langit teringat dia.

rindu ini membunuhku
Terkenang dirimu diantara belahan langit biru

Punggung itu terus berjalan menjauh namun searah, tapi aku tak berani menghampiri dan memeluknya. Tanpa sadar mata ini seakan tak ingin melepaskannya. Rey.. bibir ini seakan bergerak memanggil, namun tersekat ditenggorokan terdengar lemah. Rey.... sebuah suara kencang hampir semua orang reflek menoleh mencari sumber suara itu.

Cewe dengan postur tubuh hampir sempurna tanpa cela, menghampiri laki-laki yang sangat dirindukannya. Terlihat jelas pada ekspresinya saat menghampiri punggung yang selalu menghiasi ruang rindu dihatiku. Seketika hatiku hancur lebur, tak terasa airmata ini menetes menahan pedih yang dalam. Meski teramat pedih melihatnya, tapi aku tak ingin berpaling melihatnya.

Lelaki pun berbalik, tak sengaja pandangan kita bertemu dan beribu kata ingin sekali ku ucapkan. Rindu ini sungguh membunuhku dan seakan tak rela melepas rasa rindu yang menyiksa. Matamu pun seakan terkejut melihatku,  namun itu tak berlangsung lama karna orang dihadapanmu memeluk erat seakan tak rela melepasmu.

Meski hanya berjarak beberapa meter, entah kenapa langkah ini semakin berat saat hampir mendekati mereka. Akhirnya.. handphone ku bergetar, tanda panggilan masuk. Mobil yang menjemputku menuju hotel tempat ku menginap selama satu minggu di Bali. Perjalanan kali adalah untuk menunaikan tugasku sebagai rakyat Indonesia. Sebagai peserta diklat untuk menerima pendidikan dan pelatihan pembinaan ideologi Pancasila.

tirta gangga
Rindu ini membunuhku

Sampai di hotel bertemu dengan peserta diklat membuat pikiranku beralih, untuk sementara lupa akan kejadian tadi. Kegiatan yang terjadwal dimulai setelah sarapan dan diakhiri menjelang magrib. Meski padat tapi lumayan untuk mengalihkan ingatanku tentangmu. Malam hari pun acara bebas untuk para peserta, aku dan beberapa teman menikmati keramaian di pulau Dewata ini.  Pulau Denpasar Bali merupakan salah satu tujuan wisata yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun wisatawan asing.

Sebagai orang Indonesia, aku selalu bangga akan keindahan alam dan beragam suku dan budaya di bumi tercinta ini. Hanya Indonesia yang mempunyai ideologi Pancasila, sehingga beragam warna suku dan budaya serta perbedaan membuat Indonesia lebih indah. Tugas kita lah yang harus menjaga kekayaan warisan budaya ini, jangan sampai keunikan dan keindahan Indonesia ini diakui oleh negara lain. Jangan sampai kita terpecah belah,  sehingga membuat kita lalai. #SalamPancasila

Berakhirnya kegiatan diklat ini, dan aku pun menikmati dua hari penuh berlibur dan menikmati keindahan pulau dewata ini. Mungkin rindu ini sudah sampai batasnya, entah ini suatu kebetulan atau memang sudah terencana. Kita bertemu di saat senja di pantai Pandawa.

"Aby.. suara khas mu yang masih kuingat meski lama tak mendengarnya tapi masih membuat jantungku berdebar dan terasa ada kenikmatan tersendiri.

"Boleh minta waktumu sebentar??? Katamu lagi. Aku hanya bisa menganggukkan kepala dengan ekspersi yang datar.
By.. sepertinya kita harus mengakhiri kisah kita yang memang belum berakhir ini,  meski sudah lima tahun tak bertemu. Tapi jujur ku akui.. Aku masih menyimpan rindu dan rasa bersalah karena telah meninggalkan mu dan pergi tanpa pesan.

"Kini aku sudah berkeluarga, meski hati ini masih tersimpan namamu. Cintaku hanya untukmu, meski lima tahun ini aku terus berusaha melupakan mu tapi masih saja ku tak sanggup. Apalagi secara kebetulan kita bertemu di bandara, semakin kuat rinduku padamu."katamu seakan terbang ku mendengarnya antara senang dan pedih rasanya.

tati suherman
Meski pahit tapi aku pun harus menerima 

Meski mengumpulkan seluruh keberanianku mendengar kata-katamu,  dan hanya dengan airmata ku menjawabnya. "Karena perjodohan dan permintaan orangtua ku yang mengharuskanku melakukan semua ini, ku harap kamu bisa memaafkan dan melupakan kisah kita. Biar rindu ini yang membunuhku, carilah seseorang yang mencintai mu yang rela mengorbankan segala. Orang pengecut sepertiku tidak pantas kau rindukan lagi. Semoga kau menemukan kebahagiaan diluar sana". Kata mu mengakhiri perpisahan ini untuk selamanya.

Haah.. Ku hela napas panjang melihat punggung mu pergi dan semakin menjauh lagi. Perpisahan yang tertunda selama lima tahun ini, akhir nya membuat ku sedikit lebih lega dan berani lagi menatap masa depan disana. Perjalanan ini pun harus berakhir seperti kisah dan rinduku padamu. Kembali ku tatap iringin awan dilangit biru Denpasar Jakarta. Ku selipkan doa semoga ada satu laki-laki di dunia ini yang akan menemani ku menjalani perjalanan di dunia ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tiroid Bukan Penyakit Menular Namun Bisa Mengakibatkan Kematiaan

Manfaat Nano Water Can Slim Untuk Kesehatan

Bella Terra Lifestyle Mall Di Jakarta Utara