Liburan Seru Di Ngaprak River Dan Menikmati Suasana Syahdu Di Desa Parakanceuri Menyesap Kopi Poesaka Purwakarta

Selalu aja ada alasan untuk kembali ke Purwakarta, meski kota ini bukan kota besar seperti Bandung. Tapi Purwakarta selalu memanggil untuk dikunjungi. Destinasi di Purwakarta lengkap, ada wisata religi, wisata alam, wisata kuliner, wisata sejarah dan masih banyak lagi. Purwakarta terkenal dengan wisata alamnya, kota ini dikelilingi beberapa gunung pendakian dan menjadi gunung favorit para pendaki. Salah satu Gunung Parang, Gunung Bongkok, Gunung Lembu, Gunung Burangrang dan Gunung Haur.

Selain gunung, masih banyak wisata gratis di sekitaran stasiun Purwakarta, menikmati sunsrise di Waduk Jatiluhur, Alun-Alun Purwakarta, bersebelahan dengan Masjid Agung Baing Yusuf. Masjid bersejarah ini didirikan oleh Syeh Baing Yusuf keturunan Prabu Siliwangi pada tahun 1826, seorang penyebar agama islam. Masjid Agung Baing Yusuf, sering di padati oleh penziarah dari luar kota, yang ingin berziarah ke makam keramat Syeh Baing Yusuf. Alhamdulillah 2 tahun lalu, saya dan majelis taklim Baiturahman berziarah saat tawaquban menjelang ramadan. Kalau dihitung-hitung baru 20 persen nya aja, jelajah wisata Purwakarta, Gunung Bongkok, staycation di Hidden Valley, Ziarah ke makam keramat Syeh Baing Yusuf, Kuliner sate maranggi Hj. Yetty, lebih seringnya sih beberapa kulineran di Purwakarta. Akses nya juga mudah dan masih banyak angkot juga bisa di akses dengan jalan kaki.

river tubing purwakarta
Dok. Ngaprak River

Liburan seru menguji andernalin bareng Ngaprak River

Long weekend kemarin, hari sabtu, 17 Januari 2026, kembali jelajah wisata alam Purwakarta ke Ngaprak River, Desa Wisata Parakanceuri dan menyesap kopi, melihat proses pembuatan kopi Poesaka Kopi yang ditanam di lereng gunung Burangrang Utara (Gunung Sunda). Peleserin kali sangat spesial, yang menjadi spesial karena bareng komunitas Kompasiana dan Warga kota Purwakarta. Seneng banget akhirnya rindu ini terobati, berhubung long weekend seminggu sebelum berangkat war tiket kereta lokal Walahar. Sebenarnya tanggal 2 Januari yang lalu niat ke Purwakarta, mau ke Kopi Hutan Jati dan menikmati sunrise di Waduk Jatiluhur, sengaja beli tiket pagi dari Gambir dan tiket pulang jadwal terakhir kebetulan lagi ada promo akhir tahun Rp49.500. Sayangnya keponakan sakit mendadak, akhirnya terpaksa cancel. Makanya ketika di ajak mba Mira warga lokal Purwakarta dan bagian dari Kompasiana, exited dan bersyukur banget meski belum kesampean ngopi di Kopi Hutan Jati.

harga paket ngaprak river
Dok. Ngaprak River


Alhamdulillah sampai di stasiun Purwakarta tepat pukul 09.30 wib, dan disambut gerimis (tau ga ini pertanda kita oasti akan kembali lagi) sambil menunggu dijemput hiace, kami menyicipi Bacang Jando dekat stasiun harganya 10k dan disajikan hangat dengan toping potongan daging ayam di kecapin. Bagi yang belum sarapan, dekat stasiun banyak pilihan mau nyemil atau mau makan berat lengkap dekat stasiun. Dekat Bacang Jando juga ada ayam taliwang sepaketnya hanya 30ribuan. Akhirnya mobil jemputan datang, sebelum melanjutakan perjalanan ke destinasi wisata, kami disambut Pak kabit Dodi Samsul Bahri. Setelah beramah tamah sebentar dan foto bersama, kami melanjutkan perjalanan ke Ngaprak River. Karena keterbatasan waktu, paket yang dipilih short trip tapi lumayan seru dan asik juga. Apalagi gw baru pertama kali river tubing, di ombang ambing arus sungai yang lumayan deras.

alun alun purwakarta
Foto bareng Pak Dodi Samsul Bahri Disporaparbud dok. Disporaparbud


Cukup ikuti arus nya, nikmati and enjoy

wisata air purwakarta
Mesti sadar kamera, siap fose dok. Ngaprak River


Sebelum memulai tubing, semua peserta diwajibkan memakai helm dan pelampung untuk safety. Dari basecamp ke sungai kami naik mobil bak terbuka, pemandangan juga sangat indah. Meski peserta tidak disarankan membawa smartphone, tapi ada tim dokumentasi yang siap mengambil gambar, hasil jepretannya juga bagus seperti fotografer profesional. Kami juga di briefing dulu, sebelum ke sungai, setelah briefing dan berdoa kami menyusuri jalan setapak melewati sawah dan kebun untuk menuju sungai. Kudu hati-hati dan pakai sepatu gunung atau alas kaki yang nyaman.

Short trip 500 meter seru juga bagi pemula, alhamdulillah aman sampai finish. Meski ada beberapa peserta yang terbalik tapi ranger dengan cekatan menghampiri. Gw juga sempet terjepit bebatuan dan dibantu ranger yang memang sudah standby di tiap titik arus. Sepertinya next time kudu nyobain yang long trip, Bismillah semoga di kabulkan keinginan ini, dan gw yakin pasti kembali karena kemarin hampir seharian disambut hujan di kota ini.

Kampung Wisata Parakanceuri 

kampung wisata parakanceuri
Dok. Ikhsan

Puas main air akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Wisata Parakanceuri, meskipun hujan tidak menjadi trip ini terhambat. Melewati Situ Wanayasa, dan menghirup asap sate maranggi akhirnya kami sampai di Kampung Wisata Parakanceuri. Kampung ini berhias Gunung Burangrang yang megah, meski berkabut masih samar terlihat jelas. Suasana syahdu makan siang jadi lebih nikmat dengan hidangan sederhana khas sunda, ngaliwet di sini sambil memandang Gunung Burangrang seakan menyapa.

Setelah makan siang, kami beramah tamah dengan Pak Agus, pengagas Kampung Wisata Parakanceuri. Masyarakat di kampung ini masih kental dengan agama nya, semua anak-anak disini santri melanjutkan pendidikannya di pesantren. Meski kampung wisata tetapi kampung ini bukan seperti tempat wisata lainnya. Berawal dari lomba "buruan geulis (lomba halaman cantik), lomba hias gapura dan berbagai program kepedulian lingkungan. Wisatawan pertama yang berkunjung ke Kampung Wisata Parakanceuri ini adalah 20 pengunjung wisatawan asing.

kampung wisata parakanceuri
Dok. Kampung Wisata Parakanceuri


Ada beberapa paket trip di Kampung Wisata Parakanceuri, bagi yang mau stay juga ada disediakan penginapan dirumah warga, yang dilengkapi dengan perpustkaan mini yang menjadi ciri khas homestay di kampung wisata ini. Jangan lupa bawa buku-buku bacaan yang masih layak, bagi yang ingin berkunjung ke Kampung Wisata Parakanceuri untuk menambah wawasan warga kampung Parakanceuri. Disini pengunjung akan diajak menanam, menumbuk padi hingga proses menjadi nasi yang di proses masih dengan peralatan tradisional.

kaki gunung burangrang
Hamparan sawah di Kampung Wisata Parakanceuri dok. Bu Muthia

Kampung Wisata Parakanceuri, cocok banget nih untuk mengisi liburan sekolah. Disini anak-anak akan diajak mwngenal alam dan diajarkan mandiri oleh pemilik homestay. Tentu saja menjadi kebiasaan positif sebagai oleh-oleh dan terbawa sampai rumah menjadi kegiatan sehari-hari. Di kampung Parakanceuri juga banyak produk-produk UMKM yang bisa dijadikan oleh-oleh, ada rambut nene, simping, semprong, kembang goyang dan Poesaka Kopi yang menjadi produk unggulan UMKM Kampung Wisata Parakanceuri.

wisata purwakarta
Dok. Mira Habibah


Poesaka Kopi ditanam di lereng Gunung Burangrang Utara (Gunung Sunda). Bagi pecinta kopi wajib banget nih nyobain kopi Purwakarta Poesaka Kopi, jenis kopi disini arabica dengan ciri khas nya tersendiri, agak pahit dan sedikit asam tapi tetap nikmat di akhir. Seperti hidup ini apapun prosesnya tetap nikmati sampai berakhir dengan bahagia. Akhirnya dengan berat hati trip berakhir dan harus pulang ke Jakarta, meski rencana awalnya pingin nginep tapi sayang belum terlaksana. Tapi gw sih positive thingking aja, berarti harus kembali ke Purwakarta. Semoga kota dengan penuh cerita dan sejarah ini mengijinkan ku kembali untuk menikmati alam semesta Sang Pencipta. Alhamdulillah terima kasih Purwakarta, Warga Kota Purwakarta, dan Kompasiana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hope On The Stage In Jakarta

5 Wisata Gratis Di Kota Jakarta

Renungan Malam 15 Ramadan 1446 H