Selasa, 30 Mei 2017

thumbnail

Tantangan Dan Solusi Strategi Toponimi Di Ngobrol Tempo


Nama pulau baru dianggap sah jika diucapkan masyarakat lokal sekurang-kurangnya dua orang


Ngobrol Tempo kali ini mengangkat tema "Peran Toponim dan Maknanya dalam Menjaga Kedaulatan Bangsa" berlokasi di Beka Cafe Balai Kartini, Jakarta Selatan (26/05/2017) Badan Informasi Geospasial bekerjasama dengan Tempo, menghadirkan beberapa pembicara kompoten, antaralain Kepala Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim Badan Informasi Geospasial Ida Herliningsih, M.Si, Direktur Toponim dan Batas Daerah kementerian Dalam Negeri Dr Tumpak H. Simanjuntak, MA, dan dari Departemen Linguistik Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Prod Dr Multamia RMT Lauder, Mse, DEA.


Ribuan Pulau Indonesia belum Terdata

Dengan ditetapkannya stastus kepemilikan Pulau Sipandan dan Ligitan ke negara Malasyia pada tahun 2002 menyadarkan publik di Indonesia, bahwa pendataan pulau menjadi hal strategis. Selain menyangkut kedaulatan bangsa, data ini menjadi bahan untuk mengertahui sampai dimana batas negara dan luas wilayah negeri ini.


Banyak pulau yang ada di wilayah Indonesia, membuat kita sebuah informasi mengenai jumlah pulau yang dimiliki Indonesia sebenarnya. Bukan itu saja kerjasama dan kepedulian menjadi peran penting, agar tidak terjadi lagi pulau yang diakui negara tetangga.


Data yang tercatat di Kementerian Koordinator Kemaritiman, Indonesia memiliki sekitar 17,500 pulau. Namun jumlah tersebut berbeda dengan data resmi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yaitu 13.466 pulau.


Perbedaan ini disebabkan data yang dilaporkan kepada PBB adalah data valid dan sudah bernama. Artinya, masih banyak pulau yang belum memiliki nama. Kalau kita tidak peduli, bisa-bisa anak cucu kita kehilangan tanah kelahirannya.

Eksistensi Nama

●Nama adalah bagian tak terpisahkan dari seorang sosok manusia dan kehidupan manusia

●Manusia dapat kehilangan segalanya, namun ada yang tetap melekat pada dirinya sekalipun ia telah tiada. Yaitu nama diri dan nama tempat kelahiran (kadmon 2000)

●Kedua jenis nama tersebut selalu melekat sebagai penanda jati diri yang tertera antaralain diakte kelahiran, ijazah, Kartu Tanda Penduduk, Kartu Keluarga, Surat Nikah, Surat Kematian dan batu nisan

Salah mengucap nama atau menuliskannya, bisa-bisa jadi masalah besar. Apalagi pulau, mereka yang serakah pasti akan mengambil dan mengakuinya. Intinya ini butuh kerjasama yang kompak antara masyarakat sekitar dan pemerintahan.

Peran Nama

●Berdasarkan hasil riset Camputational Linguistics frekuensi kemunculan nama diri (antroponimi) dan nama tempat (toponimi) dalam surat kabar mencapai 33,92 % (Lauder 2009)

●Hal ini, membuktikan bahwa nama memiliki peran yang penting dalam kehidupan manusia, baik nama diri maupun nama tempat

●Nama sangat diperlukan untuk berkoordinasi , berkomunikasi, dan menyampaikan informasi

Karena sebuah pulau tak bernama namun berada diantara tiga negara, akhirnya mereka pun memperebutkannya sejak 2002 hingga saat ini Taiwan, Cina dan Jepang. 

Toponimi, Media, dan Pencitraan

● Kata atau Nama yang digunakan berulang kali oleh media secara berangsur akan menjadi "keyword". Apabila dikaji secara mendalam, hal ini sebetulnya dapat membantu memahami persoalan yang dihadapi bangsa

● Nama merupakan keywords terbanyak dalam media, yang sesungguhnya merupakan indikator dari news agenda pengelola atau pemiliknya

● Selanjutnya kata-kata yang terkait dengan keywords tersebut akan membentuk makna atau pencitraan

● Nama tempat atau nama orang yang muncul berulang kali dalam media elektronik maupun media cetak akan menumbuhkan impresi positif atau negatif dibenak pembaca

Penamaan Unsur Rupabumi

Prinsip Penamaan Rupabumi (pasal 6 Permendagri No. 39/2008 tentang Pesoman Umum Pembakuan Nama Rupabumi)
a. Penggunaan abjad romawi
b. Satu unsur rupabumi satu nama
c. Penggunaan nama lokal
d. Berdasarkan peraturan perundang-undangan
e. Menghormati keberadaan suku, agama, ras, dan golongan
f. Menghindarinpenggunaan nama diri atau nama orang yang         masih hidup
g. Me├▒ggunakan Bahasa Indonesia dan/atau Bahasa Daerah
h. Paling banyak tiga kata




Tags :

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

Tentang Saya

Kebebasan dan ingin menikmati hidup adalah prinsipku. Menulis dan travelling sudah menjadi hobby sejak dulu. Kalau dulu menulis hanya untuk diri sendiri tersimpan rapi di laptop ku, sejak akhir 2015 mengaktifkan lagi blogku, hidup lebih menyenangkan karena bisa berbagi pengalaman lewat tulisan. Semoga bisa bermanfaat bagi siapa pun yang singgah ke blogku. Bagi kamu yang suka travelling dan seputar lifestyle bisa mencari informasi di blog ini. follow sosial media saya Facebook: www.facebook.com/tatisuherman instagram: @tatisuherman twitter: @suhermantati email: tatisuherman2@gmail.com