Senin, 05 Desember 2016

thumbnail

Melukis di Kain Kulit Kayu

Doodle on Daluang mahakarya anak bangsa

                                           karya Tanti Amelia


Jujur baru pertama kalinya aku dengar kata "Doodle Daluang" . Kriya Indonesia bekerjasama dengan Kartini Bluebrid dan Meseum Tekstil. Mengadakan workshop Doodle Daluang yaitu menggambar diatas kulit kayu, kebetulan yang kami pakai dari kulit kayu ivo berasal dari Sulawesi dengan harga Rp550,- per centi meternya. Pengajarnya Tanti Amelia yang menurutku multi talent, penulis, blogger dan pelukis juga yang bikin aku terkagum-kagum dia juga bisa membaca karakter kita lewat gambar atau tulisan.


                              lukisan ku dikoreksi Mak Tanti

Sejak tanggal 24 November sampai 1 Desember 2016 Meseum Tekstil Tanah Abang Jakarta Pusat menyelenggarakan pameran "kain kulit kayu" beragam karya anak bangsa dipamerkan dari segala penjuru di Indonesia. Kebanyakan dari mereka terutama anak-anak di Indonesia ini tidak mengetahui apa itu Daluang.

Kita adalah satu-satu penghasil daluang di seluruh dunia. Harga kain kulit kayu ditingkat pengrajin berkisar 150.000 hingga 350.000 rupiah itupun tergantung dari bahan bakunya. Jika dibuat dari kulit kayu Saeh maka harganya lebih mahal jika dibandingkan dengan kain yang dibuat kayu Malo ataupun Beringin. Bahkan di Bandung harganya Rp 550.000 per meter.

Jika dihitung dari prosesnya harga ini terbilang sangat murah. Bisa dibayangkan bagaimana proses nya hingga menjadi kain, bisa memakan waktu 4 sampai 6 hari untuk membuat 1 lembar kain. Tujuan workshop ini, agar warisan nenek  moyang kita yang wajib dilestarikan agartidak punah begitu saja.

Pembukaan Workshop dan penutupan pameran  ini juga dihadiri oleh :

Asisten Deputi Bidang kebudayaan DKI Jakarta
Bapak Usmayadi Rameli

Kepala Meseum Seni
Ibu Esti Utami

Ahli kertas dari  Jepang
Prof. Sakamoto

Founder Kriya Indonesia
Astri Damayanti

Adapun susunan acara workshop di Meseum Tekstil
1. Laporan kegiatan oleh Meseum Seni DKI Jakarta
2. Pengenalan Kartini Blue Bird
3. penyerahan lukisan kepada :
- Bapak Usmayadi Rameli oleh Mbak Tanti Amelia
- Prof . Sakamoto oleh Mbak Nova
-Kepala meseum Seni olah Astri Damayanti
4. Pembukaan workshop sekaligus penutupan pameran Beaten Bark oleh Bapak Usmayadi Rameli - Asisten Deputi bidang kebudayaan DKI Jakarta
5. MC oleh Adit




Mengenal lebih dekat Fuya, Daluang dan Tapa

Fuya merupakan sebutan kain kulit kayu di Sulawesi Tengah. Kebudayaan kain kulit kayu ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Proses pembuatan kulit kayu hingga menjadi kain dan menjadi pakaian dimulai sejak kedatangan bangsa Austronesia, yang melakukan pengembaraan sekitar 6.800 tanuh yang lalu di China Selatan menuju Macaw. Bangsa Austronesia ini menempuh dua jalur yaitu darat dan laut. Jalur darat melewati Vietnam sedangkan jalur laut melewati Filipina. Kemungkinan besar, orang-orang Austronesia yang melewati  jalur laut mendarat di Sulawesi.

Mereka membawa peralatan pembuatan kain kulit kayu dalam perbekalannya. Itu sebabnya batu Ike yang dipakai di Sulawesi Tengah ada persamaan dengan batu Ike yang digunakan di Taiwan. Selain peralatan, merekanjuga membawa benih pohon Saeh yang merupakan bahan dasar pembuatan kain kulit kayu. Namaun hanya satu tempat saja yang batu Ike nya sama persis dengan yang ada di Sulawesi Tengah yaitu Mexico. Ini bisa terjadi para pengembara Austronesia itu hanya sebagian menetap di Sulawesi Tengah sebagian nya lagi melanjutkan pengembaraan dan diperkirakan sampai di Mexico.

Daluang sebutan untuk kain kulit kayu di Jawa. Dalam sebuah catatan dijelaskan bahwabpada tahun 1646, pernah ada seseorang yang berjalan dari Jawa Timur ke Jawa Barat dengan memakainbaju putih longgar dari kertas kayu. Hanya saja di Jawa kain kulit kayu sebagai baju jarang digunakan. Kebanyakan menggunakan kain kulit kayu sebagai media tulisan atau lebih dikenal sebagai Daluang atau Dluwang. Bahkan dalam bahasa Jawa ada kata "Druwang" yang artinya kertas. Naskah-naskah kuno yang ditemukan di pulaunJawa kebanyakan ditulis dikertas dari kulit kayu atau Daluang.

Tapa merupakan sebutan kain kulit kayu di seluruh dunia. Terutama di Pasifik seperti Hawaii juga Mexico Untuk pertama kalinya istilah Tapa diperkenalkan oleh pelaut Marcopolo.

Pemanfaatan kain kulit kayu saat ini

Dahulu kain kulit kayu digunakan sebagai baju sehari-hari maupun baju adat. Kain kulit kayu kini tetap hidup d isebagian masyarakat Sulawesi Tengah. Diantaranya Lembah Bada kabupaten Poso, di Kabupaten Sigi seperti Pandere, Kulawi dan Gumbasa hanya berkembang sebagai fashion dan terbatas hanya bàju adat saja.
Pembuatan kain kulit kayu masih didominasi oleh perempuan-perempuan tua.  Mereka sangat terampil, namun usia membuat mereka tidak bisa terus menerus memproduksi kain kulit kayu. Ditambah lahpgi d engan kebutuhan hidup sehari-hari yang harus dipenuhi. Dengan demikian produksi kain kulit kayu dilakukan disaat senggang saja. Kegiatan membuatkain kulit kayu dilakukan ketika mereka sedang tidak pergi kesawah. Itu sebabnya produksi kain kulit kayu belum bisa dilakukan secara terus menerus dilakukan.



Proses pembuatan kain kulit kayu

Kulit kayu dari pohon dibersihkan dengan air mengalir. Jika menggunakan kulit kayu Malo atau kayu Beringin makaperlu perebusan terlebih dahulu, agar kayu lebih empuk ketika dipukul nanti. Berbeda dengan kulit kayu Saeh tidak perlu direbus dulu karena kulit kayu Saeh lebih baik dari bahan baku kulit kayu lainnya. Setelah itu dilakukan pemeraman selama 3-4 hari untuk mendapatkan lendir yang berfungsi untuk membantu proses pemukulan. Barulah dilakukan pemukulanndengan menggunakan ruyung enau atau batu ike. Pemukulan dilakukan bertahap hingga diperoleh ketebalan kulit kayu yang diinginkan.

Potensi dan Hambatannya

Jika melihat proses panjang dan sejarah kain kulit kayu, maka terlihat jelas potensi kain kulit kayu di Indonesia.

1. Indonesia merupakan satu-satunya Negara didunia yang masih memproduksi kain kulit kayu.
Dengan demikian, kain kulit kayu bisa menjadi aset besar dalam mendatangkan devisa Negara dari sektor pariwisata. Berbagai sentra pembuatan kain kulit kayu memiliki wisata potensi megalitik yang sangat mendukung pemasaran produksi kain kulit kayu masyarakat setempat.

2. Kain kulit kayu merupakan sebuah kain unik yang bisa diolah menjadi fashion menarik.
Saat ini kain kulit kayu masih menggunakan teknik-teknik standar. Jadi penting dilakukan percobaan guna mendapatkan teknik pengolahan yang lebih baik untuk mendapatkan kualitas kain yang lebih baik lagi. Seperti kain kulit kayu yang tidak mudah sobek, juga teknik mendapatkanketebalan yang beragam mengikuti trend fashion yang ada.

3. Kain kulit kayu bisa dimanfaatkan untuk berbagai kelengkapan fashion.
Sisa dari kain kulit kayu bisa digunakan untuk membuat kalung, bandana, bros, sepatu, sandal, tas, dompet, dan lain sebagainya.

4.Kain kulitkayu sangat potensial untuk dijadikan sebagai nenan rumah tangga.


Jika ada potensi pasti ada juga hambatan yang harus diperhatikan

1. Pengrajin sudah tua
2. Ketersediaan bahan baku
3. Penghargaan masyarakat yang kurang





Sumber : Kriya Indonesia





Tags :

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

Posting Komentar

Tentang Saya

Kebebasan dan ingin menikmati hidup adalah prinsipku. Menulis dan travelling sudah menjadi hobby sejak dulu. Kalau dulu menulis hanya untuk diri sendiri tersimpan rapi di laptop ku, sejak akhir 2015 mengaktifkan lagi blogku, hidup lebih menyenangkan karena bisa berbagi pengalaman lewat tulisan. Semoga bisa bermanfaat bagi siapa pun yang singgah ke blogku. Bagi kamu yang suka travelling dan seputar lifestyle bisa mencari informasi di blog ini. follow sosial media saya Facebook: www.facebook.com/tatisuherman instagram: @tatisuherman twitter: @suhermantati email: tatisuherman2@gmail.com